Potret Pendidikan Indonesia

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, tidak lepas dari pemikiran akan kondisi dan stabilitasnya yang memprihatinkan. Krisis pendidikan yang muncul di tanah air turut dipengaruhi oleh krisis ekonomi global yang terjadi. [...]
Astrid A. Dirgawijaya
Traveling & Social Enthusiast

“Kemudian daripada itu,

untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia,

dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, …”

 

Demikian seutas janji kemerdekaan yang tersurat lantang dalam alinea Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia, lalu:

 

“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

 

Demikian pula diperjelas bahwa konstitusi telah menjamin hak setiap warga negara untuk mendapat pendidikan sebagaimana termaktub dalam passl 28C Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

 

 

Apa kabar dunia Pendidikan Indonesia?

 

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, tidak lepas dari pemikiran akan kondisi dan stabilitasnya yang memprihatinkan. Krisis pendidikan yang muncul di tanah air turut dipengaruhi oleh krisis ekonomi global yang terjadi. Betapa sulitnya masyarakat ekonomi menengah ke bawah untuk memenuhi biaya pendidikan yang terus melonjak tinggi. Imbasnya, berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2017/2018 lebih dari 30 ribu anak putus sekolah pada jenjang sekolah dasar (SD), serta lebih dari 50 ribu anak putus sekolah pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Jika angka keduanya digabung, maka terhitung sekitar 80 ribu lebih anak tidak berkesempatan mengenyam pendidikan dasar sembilan tahun. Kondisi demikian tentunya menghambat upaya Indonesia untuk bersaing di kancah global. Dipicu pula dengan dibukanya program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), membuat kita khususnya warga Indonesia diharuskan bersaing secara global dengan kompetensi berkelas internasional.

 

Faktanya, pendidikan merupakan faktor penting dalam meraih reputasi dan wibawa suatu negara. Dengan pendidikan yang mumpuni, generasi penerus bangsa akan melahirkan value dari otoritas, delegasi, serta determiniasi yang cerdas dan kompeten guna membangun bangsa di masa depan. Dari pendidikan pula karakter luhur seseorang akan terbentuk untuk mampu menyejahterakan hubungan sosial.

 

Hingga dewasa kini, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain disebabkan oleh kendala efektivitas, efisiensi dan standarisasi pengajaran sebagaimana telah menjadi problematika pendidikan di Indonesia pada umumnya. Hal ini kembali kepada kualitas para pendidik dalam membimbing siswa, yang mana masih sangat berpedoman pada kurikulum yang cenderung sentralistik dan tidak cukup seimbang antara cara berpikir kognitif dan afektif. Padahal belajar—menggali ilmu pengetahuan—tidak melulu mengenai cara berpikir secara rigid, namun juga melakukan berbagai kegiatan yang mampu mendongkrak kreativitas pola pikir. Tentu hal ini berkaitan dengan proyeksi pendidikan di masa depan, yaitu kreativitas menyusun strategi untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan di daerah entitas sasaran. Itulah mengapa relevansi pendidikan dengan kebutuhan aktual siswa Indonesia perlu ditinjau kembali. Kebutuhan aktual terhadap generasi-generasi muda yang telah diplotkan sebagai para pejuang mewujudkan janji kemerdekaan bangsa.

 

Faktor lainnya yang perlu menjadi fokusan penting pemerintah antara lain rendahnya kualitas sarana fisik pendidikan, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan akibat semakin tingginya biaya untuk mengenyam pendidikan yang layak. Masih banyak anak-anak yang tak terjamah terutama di wilayah pedalaman, yaitu tidak layaknya bangunan sekolah yang mereka miliki, kurangnya buku-buku pengetahuan yang terdistribusi, minimnya sosok pengajar yang professional dan terintegritas. Betapa berharganya bantuan berupa buku-buku, tenaga pengajar, dukungan moril untuk meningkatkan semangat maju bagi anak-anak yang jauh dari akses. Disinilah peran kita semua untuk menjadi generasi pemilik semangat nasionalisme yang besar dan menghendaki perubahan. Menjemput janji kemerdekaan berupa bangsa yang cerdas dan sejahtera secara aktif, bukan dengan pasif. Membangun reputasi dan wibawa negara dari cerminan kapabilitas individu di dalamnya, melalui integritas dan kompetensi untuk lebih dihargai ketimbang hal-hal yang bersifat materi.

Leave your comment

Please enter your name.
Please enter comment.